<
Back to pcmijogja.com's homepage

IKYEP 2019An Unforgettable Summer

IKYEP 2017Beyond Expectation

IKYEP 2015Menapak Keunggulan Teknologi Negeri Korea

IKYEP 2019An Unforgettable Summer

Dilla Mahartina Pertiwi
IKYEP 2019

Daftar PPAN 2019 untuk program IKYEP adalah keputusan terbaik yang kulakukan di tahun 2019. Hingga detik ini, aku belum berhenti bersyukur karena membuat keputusan tersebut bukanlah hal yang mudah mengingat waktu itu aku berada di tahun ketiga perkuliahan, dan sedang sibuk-sibuknya kuliah sembari mempersiapkan tugas akhir dan KKN.

Jika ditanya, Menurutmu bagian terbaik ikut program IKYEP itu apa? Jujur aku akan kebingungan menjawab. Karena memang SEMUA hal yang terjadi dalam rangkaian program, mulai dari seleksi-<1>pre departure training provinsi-pre departure training nasional hingga program IKYEP yang berlangsung selama 20 hari, adalah hal terbaik. Aku mempelajari banyak hal baru, mencoba hal-hal diluar comfort zone ku, bertemu delegasi Indonesia dan delegasi Korea Selatan yang kuanggap sebagai saudara sendiri, lebih mengenal negara ku sendiri, dan tentunya mengenal negara Ginseng lebih dekat!


Mengenal IKYEP Lebih Dekat

Apa sih IKYEP itu? Program Pertukaran pemuda Indonesia Korea (Indonesia Korea Youth Exchange Program) merupakan salah satu bagian dari program pertukaran pemuda antar Negara (PPAN). Kerjasama IKYEP terjadi antara 2 kementerian di kedua negara, yakni Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia serta Ministry of Gender Equality and Family Korea Selatan. Program ini sudah diselenggarakan sejak tahun 2010.

IKYEP 2019 memiliki dua fase yakni fase Indonesia dan fase Korea Selatan. Fase Indonesia dilaksanakan di dua kota yakni Jakarta dan Sumedang, sementara fase Korea Selatan di empat kota yakni Seoul, Busan, Ulsan, dan Suwon.


Pre-Departure Training Program Provinsi dan Nasional

Kontingen Indonesia melaksanakan kegiatan PDT City Tour di Jakarta

Ketuk Tilu grup untuk Cultural Performance

Setelah berhasil terpilih menjadi kandidat utama IKYEP 2019 mewakili provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, aku dan delegasi utama serta delegasi cadangan program lainnya, melaksanakan PDT Provinsi. Di PDT Provinsi ini, aku belajar banyak hal mengenai sejarah dan kebudayaan provinsi dan negaraku, serta soft & hard skill yang akan berguna untuk program IKYEP, dari kakak-kakak senior PCMI Yogyakarta. Yap! Setelah pulang program, delegasi akan menjadi alumni dan masuk ke dalam organisasi PCMI Yogyakarta. Hal yang paling menyenangkan dari PDT Provinsi adalah aku mencoba banyak hal baru seperti : naik transjogja untuk pertama kalinya, ikut membantu persiapan US-INDO Summer Studies 2019, belajar memakai jarik, dan lain-lain.

Setelah PDT Provinsi selesai, aku berangkat ke Jakarta untuk menjalani PDT Nasional yang diselenggarakan selama 3 hari. Di PDT Nasional aku bertemu 17 delegasi terpilih dari 17 provinsi di Indonesia. Rasa bangga tentunya menyelimutiku, tapi tentunya aku juga merasakan tanggung jawab untuk melakukan yang terbaik selama mengikuti program ini. Saat hari pertama PDT, aku merasa gugup karena akan bertemu putra/i terbaik Indonesia, tapi rasa gugup itu sirna saat aku mulai berkenalan dengan teman-teman baruku ini. Mereka sangat baik dan senior-senior yang hadir dalam PDT Nasional juga sangat ramah. Aku menjalani PDT Provinsi dengan penuh semangat dan kebahagiaan. Selama PDT Provinsi kami dibekali soft dan hard skill yang dirasa akan sangat berguna untuk menghadapi program. Kami juga mempersiapkan cultural performance yang akan kami tunjukkan baik di fase Indonesia dan fase Korea. Aku kebagian untuk menarikan tarian asal Jawa Barat bernama ‘Ketuk Tilu’.

Oke, kalau sekarang kalian bertanya-tanya : “Dilla emang penari ya?”

Jawabannya : BUKAN! Aku bukan penari. Aku terakhir kali menari saat pentas seni di Sekolah Dasar. Selama PDT Nasional aku diajari oleh senior-senior dan delegasi yang memiliki background penari. NO HARD PRESSURE! Memang waktu belajarnya sempit sekali, tetapi aku berhasil melaluinya dan berhasil membawakan tarian tersebut bersama delegasi Kalimantan Barat, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan dengan baik! Kalau aku yang ‘kaku’ ini bisa, orang lain juga pasti bisa!


Program IKYEP 2019 Fase Indonesia dan Korea Selatan


Courtesy Call ke Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia

(Host family di Sumedang)

(Host family di Korea Selatan)

(Courtesy Call ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul, Korea Selatan)

Selama fase Indonesia di Jakarta, kontingen Indonesia dan Korea Selatan mengunjungi kantor GO-Jek, Tokopedia, mendapatkan materi dari para experts, belajar membatik di Galeri Indonesia Kaya, mengunjungi Universitas Indonesia, dan melakukan courtesy call ke Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.pergi ke Sumedang untuk berkunjung ke UMKM yang ada disana seperti UMKM Opak Oded Conggeang, lalu desa yang mengelola bisnis ubi cilembu. Di Sumedang, aku pun melaksanakan kegiatan Host Family bersama dengan Aa Vancher dari Jawa Barat, Gaeul Eonni delegasi Korea Selatan, dan Yohan, Head Of Delegation dari Korea Selatan. Selama aktivitas Host Family, kami tidak hanya ke tempat-tempat wisata tetapi juga mencicipi kuliner Sumedang. Karena banyak menghabiskan waktu bersama, aku memiliki hubungan yang sangat baik dengan Gaeul Eonni. Dia menganggapku sepertinya adiknya sendiri, dan aku menganggapnya sebagai kakak perempuanku! Sebagai orang Indonesia yang pernah menonton drama korea, memiliki teman asal Korea Selatan yang dipanggil ‘eonni’ atau kakak perempuan dalam bahasa Korea, merupakan hal yang sangat menyenangkan!

Kontingen Indonesia sampai di Korea Selatan pada tanggal 5 Juli 2019, di pagi hari yang sangat cerah. Saat itu di Korea sedang summer! Selama Fase Korea Selatan kami berkunjung ke 4 kota yakni Seoul, Busan, Ulsan dan Suwon! Selama fase Indonesia, kami berkunjung ke tempat-tempat wisata terkenal seperti Namsan Tower! Aku sangat, sangat, sangat, senang sekali karena Namsan tower merupakan destinasi yang paling ingin kukunjungi jika suatu saat memiliki mengunjungi pergi ke Korea Selatan. Selain mengunjungi tempat wisata, kami juga mengunjungi berberapa companies dan institutions tingkat dunia seperti Samsung Innovation Museum, Hyundai, ASEAN-Korea Center dan UN Peace Memorial Hall di Busan! Sebagai mahasiswi Hubungan Internasional yang memiliki cita-cita bekerja di PBB, tentu saja kunjungan-kunjungan ini sangat meninggalkan bekas di hatiku! Selama di Korea Selatan, aku juga berkesempatan mencoba makanan-makanan khas korea seperti tteobokki, samgyetang, Korean fried chicken, odeng, dan masih banyak lagi!!


Persahabatan Musim Panas Yang Tidak Akan Pernah Berakhir

Bersama delegasi Indonesia saat waktu kosong di Korea

Foto bersama delegasi Indonesia dan Korea Selatan

Foto bersama delegasi sekaligus translator kontingen Korea

Hubungan pertemanan baik antar sesama delegasi Indonesia maupun dengan delegasi Korea Selatan terjalin sangatttt baik. Walaupun kita bertemu dan menjalani program dalam waktu singkat, rasanya seperti sudah saling mengenal satu sama lain sejak lama. Candaan dan obrolan seru menyelimuti hari-hari kami selama program berlangsung.

Eits, jangan kalian pikir ketika program berakhir, hubungan pertemanannya juga berakhir. Setelah program usai, kami masing sering berkomunikasi dengan baik di sosial media, bahkan kerap kali melakukan video call. Dalam kurun waktu 6 bulan terakhir, sudah ada tiga delegasi Korea Selatan yang berkunjung ke Indonesia untuk berlibur! Gaeul Eonni berkunjung ke Yogyakarta sementara Jisoo dan Yunjin Eonni berkunjung ke Bali! Aku memiliki kesempatan bertemu kembali serta berlibur bersama mereka! Saat kami bertemu kembali, tidak ada rasa awkward sama sekali, yang ada hanya kerinduan. Padahal, kami baru beberapa bulan berpisah!

Persahabatan kami yang dibangun dengan cinta saat musim panas, tidak akan berakhir saat musim panas itu berakhir. Aku menantang kalian untuk merasakan pengalaman itu! Jangan lupa daftar PPAN!


IKYEP 2017Beyond Expectation

Siti Bariroh Maulidyawati
IKYEP 2017

Dari 18 provinsi di Indonesia, menjadi satu kontingen Indonesia untuk IKYEP 2017

Pada tanggal 26 Juli-14 Agustus 2017 lalu, saya berkesempatan mengikuti program Pertukaran Pemuda Indonesia-Korea Selatan (PPIKor) atau yang lebih sering dikenal dengan nama Indonesia-Korea Youth Exchange Program (IKYEP). Program ini merupakan kerjasama Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI dan Ministry of Gender Equality and Family (MOGEF) Korea yang dimulai sejak tahun 2010. Pada tahun 2017, program ini diikuti oleh 18 perwakilan dari 18 provinsi di Indonesia dan 17 perwakilan dari Korea.


Bersama keluarga angkat di Manado

Manado

Seusai PDT (Pre-Departure Training), fase pertama, yaitu fase Indonesia pun dimulai. Tahun 2017, fase Indonesia bertempat di Jakarta (26-27 Juli 2017) dan Manado, Sulawesi Utara (27-4 Agustus 2017). Tidak hanya akan ke Korea Selatan untuk pertama kalinya, fase Indonesia di Manado juga kali pertama saya berkujung ke ibukota Sulawesi Utara itu. Pada fase ini kami dipasangkan dengan satu counterpart dari Korea Selatan untuk berkegiatan selama di Jakarta dan Manado. Kegiatan yang kami lakukan selama di Indonesia diantaranya adalah courtesy call ke Kemenpora RI, Kedutaan Besar Korea Selatan, workshop jajanan tradisional, budaya dan kesenian di Tomohon, Cross Cultural Awareness di SMAN 1 Manado, Praktik Kuliner, Manado City Tour dan masih banyak lagi. Pada fase Indonesia, saya dan counterpart beserta delegasi lain juga berkesempatan tinggal bersama keluarga angkat selama kurang lebih lima hari.Fase Indonesia ditutup dengan Gala Dinner di Balaikota Manado disertai dengan penampilan Cultural Performance dari delegasi Indonesia dan Korea Selatan.


Incheon, Seoul, Gangneung dan Cuncheon

Berfoto bersama Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan

4 Agustus 2017 saya dan kawan-kawan delegasi Indonesia melanjutkan kefase ke-dua di program, yah ini yang sudah saya tunggu-tunggu untuk terbang ke Korea Selatan. Jujur teman-teman, saya sebelumnya tidak pernah kena demam K-Pop dan saya tidak banyak tahu soal trend di Korea Selatan. Jauh sebelum berangkat saya oleh banyak teman saya yang K-Popers sudah sedikit banyak ‘di-training’ hehe. Saya bertekad bisa belajar dan bertukar budaya dengan kawan-kawan kami nanti di Korea Selatan. Jadi sebenarnya saya justru lebih banyak memperdalam pengetahuan budaya Indonesia sebelum bisa berangkat mewakili Indonesia tercinta ini.

Lanjut cerita, selama di Korea, ada empat kota yang kami kunjungi. Diantaranya adalah Incheon, Seoul, Gangneung dan Cuncheon. Seperti saat fase Indonesia kami juga menjalani courtesy call ke beberapa tempat seperti Ministry of Gender Equality and Family (MOGEF), Kedutaan Besar Indonesia di Korea Selatan dan ASEAN-Korean Centre. Selain itu, kami juga sempat ada sesi diskusi dengan pemuda di Seoul, Incheon dan Gangneung Centre.


Diskusi dengan Pemuda di Gangneung Centre

Selain berdiskusi, saat yang paling saya suka adalah diwaktu mengenakan pakaian adat, national costume Indonesia. Pemuda-pemudi lokal teman kami disana sangat tertarik dengan pakaian yang kami kenakan. Mereka kagum loh kostum Indonesia beragam karena memang kontingen Indonesia di IKYEP ada dari 18 provinsi. Wah saat itu berasa artis sih, mereka banyak yang ngajakin foto bareng, kapan lagi kan merasa seperti 'artis' di negeri segudang selebritis K-Pop ahaha.

Kawan-kawan, pada bab selanjutnya saya mau cerita saat di Hanggeul dan Cuncheon ya. Di sana saya mengunjungi banyak tempat wisata, mencoba menggunakan Hanbok, dan juga dapat keluarga angkat. Yuk lanjut ke "IKYEP 2017:My Forever IKYEP".


IKYEP 2015Menapak Keunggulan Teknologi Negeri Korea

Indra Aizen
IKYEP 2015

Suryo Hapsoro (Photos)
IKYEP 2014

Indonesia-Korea Youth Exchange Program (IKYEP) adalah program kerjasama antara Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora) Republik Indonesia dan Ministry of Gender Equality and Family (MOGEF) Korea yang dimulai sejak tahun 2010. Pada tahun 2015 lalu, Indonesia mengirimkan 19 pemuda dari 19 provinsi untuk mengikuti IKYEP. Sementara itu, pemerintah Korea menugaskan 20 delegasi untuk program ini.


Di tahun 2015, IKYEP berlangsung selama 27 hari dan terbagi ke dalam tiga fase. Fase pertama adalah Pre-Departure Training (PDT) yang diselenggarakan selama lima hari pada tanggal 29 Oktober – 2 November 2015. PDT sendiri merupakan kegiatan yang ditujukan untuk mempersiapkan kami, para delegasi, untuk berangkat program. Didampingi oleh kakak-kakak alumni, kami dibekali dengan berbagai materi dan latihan selama PDT. Selain itu, saya dan 18 delegasi lainnya dapat saling mengenal satu sama lain secara lebih mendalam melalui PDT tersebut.


Usai mengikuti PDT, kami pun memasuki fase kedua yaitu fase Korea. Fase ini berlangsung pada tanggal 3-12 November 2015, di mana kami mengunjungi Seoul, Incheon dan Gwangju. Aktivitas selama fase Korea sangat menarik, di antaranya courtesy call ke Ministry of Gender Equality and Family Korea dan Kedutaan Indonesia di Korea, kunjungan ke Seoul National University, National Museum of Korean Contemporary History, Gwangju University, pasar Myeongdong dan Nandaemun, desa Namsangol Hanok di mana kami mempelajari permainan serta tradisi Korea, bahkan kami juga berkesempatan berlatih K-Pop dance! Hal yang tidak kalah menarik adalah tinggal bersama dengan keluarga angkat, di mana kami dapat mencicipi rasanya hidup layaknya orang Korea.


Fase terakhir adalah fase Indonesia yang bertempat di Bandung, Jawa Barat pada tanggal 13-22 November 2015. Peserta di dalam fase ini tidak hanya delegasi dari Indonesia, melainkan juga delegasi dari Korea Selatan. Berbagai kegiatan juga kami lakukan bersama-sama di dalam fase ini, seperti courtesy call ke Balaikota Bandung, membatik di Batik Komar, field trip ke Dusun Bambu, Universitas Pendidikan Idnonesia, serta mengikuti workshop jajanan tradisional, baju daerah, serta kesenian. Sama halnya dengan fase Korea, pada fase ini kami juga tinggal bersama dengan keluarga angkat.


Pengalaman mengikuti IKYEP sangatlah berharga bagi saya. Selain rasa bangga karena telah mewakili DI Yogyakarta dan Indonesia di kancah internasional, saya juga dapat belajar banyak hal, terutama untuk saling memahami budaya satu sama lain. Saya juga dapat menjalin persahabatan dengan teman-teman delegasi maupun keluarga angkat, baik di Indonesia maupun Korea.