<
Back to pcmijogja.com's homepage

SSEAYP 2017Never Ending Voyage

SSEAYP 2017Sailing the Blue

SSEAYP 2017My SSEAYP Journey

SSEAYP 2015Berlayar, Bertemu, Berpisah

SSEAYP 2017Never Ending Voyage

Dyah Ayu Pratiwi
SSEAYP 2017

#4EVER4SSEAYP, tagline 44th SSEAYP 2017.
© Administrator of 44th SSEAYP

Sekarang kalau saya bilang langit dan laut biru tak lagi terlihat sama sepertinya tidak terlalu berlebihan, karena memang beda. Bisa dibilang jika lihat yang biru-biru membuat saya ingat langit dan lautan yang sering saya temui selama SSEAYP. Tapi tentu bukan itu yang paling berdampak bagi saya dari program ini. Untuk saya program ini memacu saya untuk dapat menjadi orang yang passionate, mungkin ini semua karena saya berkesempatan bertemu banyak orang yang sangat keren di bidangnya, pemuda-pemudi hebat dari JASEAN.


Bersama teman-teman dari satu Solidarity Group F, sampai sekarang kami masih sering berkomunikasi melalui video call atau sekedar chatting.
© Obara Yoshiyuki

Ikut program ini, banyak pintu-pintu yang mungkin dulunya terkunci, di program jadi terbuka. Membuka pemahaman saya terhadap beragam perbedaan dan optimisme perdamaian. Saya merasakan di program, pada dasarnya manusia itu saling bekerjasama tidak lihat kewarganegaraan. Saya semangat lebih untuk mencapai banyak hal dan berbuat baik setelah program. Benar sekali pesan senior program, jangan terjebak di SSEAYP Sick melainkan pikirkan setelah SSEAYP apa kontribusi di dunia nyata. Bersiaplah untuk bangun dari mimpi!

Bersama Mommy Junnel Ann, National Leader Filipina yang sangat ramah dan perrhatian. Saya sangat ingin bisa mengunjungi Mommy di Ilo-Ilo Filipina.
© Restu Ayu Mumpuni

Saya bersyukur untuk semua kesempatan, berterima kasih pada setiap orang yang dijumpai, dan terpenting adalah selalu ingat siapa yang sudah bantu dan mempercayai kita. Ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua orang tua saya yang sudah selalu doa buat saya, pemerintah tentunya yang sudah mengirimkan kami sebagai kontingen Indonesia, seluruh senior yang sudah membantu mengadakan seleksi tiap tahunnya mempersiapkan juniornya untuk berangkat PPAN.

Bersama Mas Ivan dan Mbak Francy, alumni SSEAYP perwakilan D.I.Yogyakarta tahun 2000 dan 1993. Keduanya berdomisili di Jakarta dan setiap ada kesempatan selalu memberi saya dukungan penyemangat.
© I Made Subagiarta

Banyak keseruan tidak berhenti di program PPAN, sebagai alumni kami akan bergabung di organisasi alumni yakni Purna Caraka Muda Indonesia. Di Jogja saya akan bergabung dengan PCMI Jogja, organisasi yang ideal untuk banyak belajar dari senior-senior yang sudah jauh berpengalaman. Ini juga yang menjadi daya tarik PPAN, setelah selesai program kita akan memiliki 'wadah' berorganisasi.


Berakhirlah tulisan saya mengenai pengalaman di SSEAYP 2017. Dan, hmm kalau kawan-kawan sudah baca sampai sini, sepertinya saya bisa nih tanya "Siapkah teman-teman tuk meraih ExtraMiles ikut seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara 2018 dan mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta untuk Indonesia?".

Perwakilan PPAN DIY 2017, dari kiri Deny program SIYLEP, saya SSEAYP, Bari IKYEP, dan Hanzala AISEP.

Terakhir lagi saya kutip pepatah yang juga sering digunakan oleh kawan saya di kontingen Indonesia asal Bali, I Made Subagiarta, "Where there's a will, there's a way", disaat ada kemauan maka pasti ada jalan. Saya flashback ke masa seleksi bahkan mengumpulkan keberanian untuk ikut seleksi kuncinya ada di kemauan. Saat kita mau berupaya dan berjuang maka pasti ada jalan untuk meraihnya. Saya akan share proses saya jauh sebelum berangkat program. Silakan baca masa-masa seleksi maupun pre-departure training saya ya di "SSEAYP 2017: True Colors". Jika ini bab terakhir yang akan kamu baca, makasih ya sudah baca sampai sini semoga bisa kasih gambaran mengenai program ini, SSEAYP 2017.


SSEAYP 2017Sailing the Blue

Dyah Ayu Pratiwi
SSEAYP 2017

Motor Ship Nippon Maru ini cukup legendaris, bahkan ada lagu yang tercipta untuk mengkisahkan kapal pesiar ini.
© SSEAYP International Cambodia.

Wah, ini bagian yang sulit-sulit gampang untuk diceritakan. Ketika tahu sebagian besar kegiatan SSEAYP dilakukan di atas kapal, banyak orang yang terkejut dan terheran-heran membayangkan apa yang kami kerjakan di atas kapal. Apa tidak mabuk laut? Apa yang kami makan, apakah makan ikan hasil pancingan dari kapal? Jika tenggelam bagaimana? Dan masih ada banyak pertanyaan lainnya yang bagi saya lucu dan agak ngeri juga hahaha.


Saat di Harumi Port, Pelabuhan di Tokyo.
©Brian Christian Chandraputra

Sebelum SSEAYP, pengalaman naik kapal hanya sebatas kapal Fery atau speed boat dan tidak pernah lebih dari empat jam. Di SSEAYP, kapal adalah daratan kami selama 24 hari. Banyak yang mengalami seasick atau mabuk laut namun lama-lama juga terbiasa. Lagi pula ada banyak kegiatan dan teman yang bisa membuat lupa akan sakit, perkara seasick justru banyak digunakan sebatas bahan membuka obrolan. Jika soal keamanan, kapal ini merupakan Kapal Pesiar profesional yang mewah. Pada awal program di kapal kami sudah mendapat emergency drill, simulasi jika keadaan darurat terjadi. Nampaknya semua kemungkinan terburuk pun sudah diantisipasi. Soal fasilitas di atas kapal juga sangat memadai, makan-minum, kesehatan, maupun hiburan ada.


Ini dia jogging track di lantai 7+ nya Nippon Maru! Gimana, masih mager?

Sesekali saya sempatkan bangun pagi-pagi untuk jogging (sebelum morning exercise bersama di Dolphin Hall). Selama di daratan, olah raga yang paling buat saya malas adalah jogging. Tapi di atas kapal mood nya bagus banget untuk jogging mengelilingi deck kapal Nippon Maru. Olah raga juga baik banget untuk stamina terutama di atas kapal, kalau sulit bangun pagi, malam-malam juga oke sih. Selain itu makan saya juga lahap (naik 3 kg di kapal), ini semua untuk menghindari mabuk laut, ini beneran bukan alasan. Kebukti dari awal hingga akhir kapal berlayar saya aman-aman saja tidak pernah mabuk laut yang mengganggu aktifitas. Sepertinya seasick ini ya semacam masuk angin ya kawan-kawan, jangan telat makan adalah 'koentji' hahaha.


Saat mendiskusikan Post Program Activity kontingen Indonesia. Setelah mengikuti program, sekembalinya peserta ke negara dan daerah masing-masing diharapkan untuk berkontribusi lebih ke masyarakat salah satunya dengan Post Program Activity. Garuda 44 memiliki PPA The Hoax Buster Project.
© Restu Ayu Mumpuni

Soal kegiatan, setiap hari jadwal seluruh kegiatan sudah ditentukan oleh administrator atau pihak facilitator selama program di atas kapal. Sebagian besar kegiatan di atas kapal adalah diskusi dan kelompok solidaritas. Kami terbagi dalam delapan topik diskusi dan tersebar di 11 kelompok solidaritas atau Solidarity Group. Di luar itu juga terdapat Flag Hoisting atau upacara bendera, PY Seminar atau seminar yang diorganisir oleh peserta sendiri, dan kemudian yang selalu dinanti-nantikkan ada National Presentation, perhelatan seni budaya.

Upacara dilaksanakan setiap Kapal melewati suatu wilayah negara peserta SSEAYP.
© Chan Pengli

Selain acara-acara 'serius', ada cukup waktu bebas di atas kapal untuk santai bergaul dan mengadakan acara-acara seperti SSEAYP Got Talent, event pageant dari Laos Mr&Ms Apone Lao, fashion night, hingga coffee dan noodle Party ala Indonesia, di penghujung acara kami juga mengadakan Farewell Party. Ada banyak kesempatan untuk melakukan eksplorasi dan mengekspresikan diri.

Di waktu luang kami bisa mengadakan Voluntary Activity acara bebas yang biasanya diinisiasi oleh suatu kontingen atau hasil kolaborasi. Foto ini saat saya mengikuti VA Kontingen Vietnam.
© Phu Tran
Salah satu event yang dinanti-nanti di SSEAYP, Mr&Ms Apone Lao. Masing-masing kontingen mengirimkan perwakilannya. Tidak hanya yang punya background pageant saja yang ikutan, bahkan ada peserta yang kali pertama merasakan berjalan ala kontes kecantikan ini.
© Dyah Ayu Pratiwi

Lebih dari 300an peserta dan banyak sekali macam kegiatan tentu akan sulit untuk mengenali semua orang dan berkecimpung dalam semua kegiatan di kapal. Banyak dari peserta kemudian menemukan passion nya di program. Ada yang asik dan sangat menikmati di sesi diskusi dengan materi yang sangat diminatinya, ada yang kemudian tampil cemerlang di National Presentation dengan skill yang dimiliki, sibuk sebagai PY Steering Committee ataupun Sub-Committee, bertemu dengan PY yang memiliki minat yang sama di topik seminar tertentu, , dan ada juga ada yang tertambat hatinya dengan peserta lain dan sebisa mungkin menikmati momen romantis di atas kapal.

Salah satu tradisi di SSEAYP adalah saling pinjam dan bertukar pakaian tradisional untuk digunakan saat menonton National Presentation. Di foto saya menggunakan Yukata dari Jepang sedangkan IPY dari Sumatera Barat, Fariz mengenakan Ao Dai dari Vietnam.
© Brian Christian Chandraputra

Saya sendiri selama program mencoba menikmati semua kegiatan, meski kemudian cenderung lebih banyak berkegiatan bersama PY Seminar sub-committee dan juga Press PY. Ada begitu banyak anak muda yang passionate di bidangnya ini terekspos di kegiatan PY Seminar. Sesi ini memberi kesempatan PY untuk menyelenggarakan seminar sesuai dengan keahlian dan passionmereka. Entah tentang healthy lifestyle, topik lingkungan, kelompok marginal, dan masih banyak topik lain yang pada intinya diselenggarakan oleh peserta berbagi ke peserta lainnya.

Bersama Discussion Group 7, Topik Resilient and Sustainable City Design. Kami mengkampanyekan green lifestyle di atas kapal. Apa lifestyle yang kami soroti adalah mengenai food waste, sampah, dan penggunaan botol refill untuk minum. Foto di samping diambil setelah kami selesai mengumpulkan sampah recycle dari kabin ke kabin. Moment-moment kampanye DG 7 ini tidak akan saya lupakan. Mungkin kecil impact langsungnya, tapi sungguh saya senang sekali bertemu teman-teman dengan kepedulian yang sama.
© Press PY 44th SSEAYP.

Di penghujung program, untuk tolak ukur keberhasilan SSEAYP terdapat sesi Post Program Activity atau PPA. Masing-masing kontingen harus mempresentasikan proyek sosial yang akan dikerjakan setelah menjadi peserta SSEAYP. Seluruh pemerintah penyelenggara SSEAYP sepakat selain friendship dan mutual understanding dampak yang harus nampak adalah kontribusi peserta sekembalinya ke tanah air dan daerah masing-masing. Apa proyeknya bebas, selama itu bermanfaat. Kontingen Indonesia sendiri tahun ini membuat the Hoax Buster Project, mengerjakan roadshow dengan media permainan edukatif ular tangga mengenai hoax untuk memberi pemahaman mengenai hoax di masyarakat agar lebih bertanggung jawab dalam menyebarkan informasi.

Menikmati sunrise terakhir di atas kapal Nippon Maru.
© Nguyen Ngoc Nhu Quynh

Kurang lebih seperti inilah gambaran kegiatan selama di atas kapal. Di lain waktu mungkin saya akan cerita soal pemandangan yang ditemui selama mengarungi samudera. Beberapa kali kami melihat lumba-lumba, melewati perairan dekat Gunung Fuji, merasakan sensasi ombak besar di perairan Filipina (saya sempat keluar ke deck paling depan, ombak sampai naik di deck lantai empat hingga saya pun basah kuyup), menegangkannya saat-saat pirates watch dibeberapa titik rawan, dan salah satu yang sangat langka adalah star gazing dimana kami semua akan naik ke deck teratas di lantai tujuh seluruh pencahayaan dimatikan dan crew kapal akan menjelaskan rasi bintang yang kami pandangi bersama-sama, romantis bukan!

SSEAYP 2017My SSEAYP Journey

Dyah Ayu Pratiwi
SSEAYP 2017

MS Nippon Maru menjadi 'rumah' selama program SSEAYP
© SSEAYP International Cambodia

Oktober hingga Desember lalu saya berangkat mengikuti Pertukaran Pemuda Antar Negara, Ship for Southeast Asian and Japanese Youth Program atau biasa disingkat SSEAYP.Tahun 2017 kemarin merupakan kali ke-44 program ini diselenggarakan atas kesepakatan antar negara. Peserta SSEAYP terdiri dari kontingen Jepang dan sepuluh negara ASEAN yang masing-masing mengirimkan 28 pemuda/i dan satu National Leader. Kontingen Indonesia tahun ini lengkap mengirim 14 pemuda dan 14 pemudi total dari 27 provinsi dan saya sendiri mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta.


Bersama Fika Nurazam (kiri) perwakilan DIY pada SSEAYP 2015, saat kunjungan ke Kedutaan Besar Jepang di Indonesia
© Wahyu T. Baharsyah

Bagi saya program ini seperti mimpi. Sangat unik karena tidak ditemui di Program pertukaran lainnya. Di tulisan ini saya akan mencoba untuk berbagi cerita pengalaman saya di program. Jika kemudian teman-teman juga tertarik ingin tahu lebih banyak terkait proses sebelum program, dapat lanjut membaca bab seleksi dan juga chapter training persiapan keberangkatan. Harapannya mungkin teman pembaca yang merasa program ini cocok dengannya, kemudian dapat tertarik mengikutinya, atau paling tidak sekedar berbagi pengalaman saya saja. Jadi, selamat membaca ya!


Country Program


Welcome Reception di Hotel New Otani, kami disambut Director General International Youth Exchange Cabinet Office Jepang, Mr.Akio Wada (baris depan nomor 4 dari kanan)
© Phu Tran

Tepatnya Hari Senin, 23 Oktober 2017 saya bersama teman-teman kontingen Indonesia mendarat di Bandara Haneda Tokyo. Saat itu kami disambut cuaca angin kencang, sebelumnya penerbangan kami memang delay karena ada badai. Tapi saya ingat betul tidak ada satu diantara kami yang khawatir, melainkan sangat excited sudah tidak sabar bertemu perserta dari Negara lain. Saya juga sudah tidak sabar untuk eksplor suasana Tokyo yang sedang adem di musim autumn.

Memanfaatkan free time untuk mengeksplorasi beberapa sudut kota Tokyo. Ini saya di Ueno dan sempat tersasar karena lokasi ini cukup jauh dari tempat saya menginap.

Di SSEAYP, setidaknya ada lima negara yang dikunjungi tiap tahun. Negara-negara ini disebut negara Port of Call. Selain Jepang, negara-negara ASEAN akan bergantian menjadi Port of Call dan negara-negara PoC tahun 2017 adalah Jepang, Cambodia, Thailand, Indonesia, Malaysia, dan Laos (hanya untuk Youth Leader dan Assistant Youth Leader). Rute perjalanan tahun 2017 dibuka di Country Program Jepang yang berlangsung selama 11 hari, dilanjutkan menggunakan kapal Nippon Maru ke empat negara ASEAN yang kami kunjungi masing-masing selama empat hari.

Tujuan dari SSEAYP adalah Friendship dan Mutual Understanding. Salah satu unsur dari program ini adalah House Family atau Keluarga angkat. Biasanya peserta akan dipasang-pasangkan dari negara yang berbeda dan akan tinggal bersama keluarga angkat.
Foto disamping adalah sesaat setelah House Family Matching di Jepang bersama Keluarga Hanyu. House Family mate saya (baju warna ungu) bernama Vang Jong dari Laos.
©Randika Dwi Putra

Durasi CP Jepang lebih panjang, karena selain program di Tokyo kami juga dibagi untuk dikirim ke 11 prefecture mengikuti program Homestay. Saya sendiri tergabung dalam Solidarity Group atau SG F yang dikirim ke Prefecture Nagano, lokasinya dari Tokyo ke utara tiga jam lamanya menggunakan Shinkansen. Di Nagano ini saya tinggal bersama keluarga Hanyu, Chichi atau ayah saya bernama Norinao-san seorang Dokter Umum handal di Nagano, Haha atau ibu saya bernama Kiwako-san mantan reporter TV lokal di Nagano, dan Ane saudara perempuan saya adalah Kyoko-san yang bekerja part time di Nagano. Bersama Keluarga Hanyu saya juga tinggal dengan PY dari Laos (Participating Youth, sebutan peserta pemuda/i di SSEAYP).

Dapat dibilang, Country Program ini adalah Paket Komplit ketika kita mengunjungi suatu negara. Karena kami mengalami beragam aspek seperti formal di Courtesy Call, professional di Institutional Visit, dan kekeluargaan saat tinggal bersama House Family. Di Country Program ini juga saya berkesempatan berjumpa dengan tokoh-tokoh penting seperti Menteri, Gubernur, Diplomat, dan sampai Perdana Menteri contohnya saat di Cambodia disambut oleh Perdana Menteri Hun Sen. Tidak kalah penting, kami dapat menjalin koneksi dengan para expert, professional maupun pemuda/i lokal berprestasi.

Bersama keluarga angkat saya naik tuktuk, kendaraan mirip bajaj kalau di Indonesia.

Dengan porsi paling besar di Country Program, ketika tinggal bersama keluarga angkat saya belajar bagaimana budaya masyarakat di negara tersebut dan juga akan jadi kesempatan kita eksplorasi daerah karena keluarga kita biasanya akan bersemangat mengajak jalan-jalan ke lokasi wisata mulai dari wisata sejarah, hiburan, hingga kuliner. Bahkan saat saya di Malaysia,bersama keluarga angkat kami melakukan road trip dari Kuala Lumpur ke Malaka yang cukup jauh. Demi memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, kami sepakat untuk tidur di mobil karena harus pergi sampai larut sekali. Seru sekali saat itu, saya bilang mama papa saya ini gokil, kebetulan mereka masih cukup. Sama seperti saat di Kamboja, orang tua saya masih muda usia 30 tahunan, yang ada justru saya panggil ayah saya ini Bong (Bahasa Khmer nya Kakak) hehe.

Saat di Jakarta saya diajak keluarga angkat saya jalan-jalan keliling Kota Tua, meski sudah cukup sering ke Jakarta saya belum kesampaian untuk datang ke sana.

Bersama keluarga angkat ini banyak bapernya (bawa perasaan). Saya biasanya tidak gampang menangis meski harus berpisah lama misalnya, karena kebiasaan terlalu pede pasti bisa berjumpa lagi. Namun di SSEAYP kemarin, rasanya kepedean saya rontok begitu saja tiap perpisahan, terutama dengan keluarga angkat. Rasanya kok akan sulit untuk bisa bertemu kembali, tidak tahu kapan lagi bisa berjumpa dengan suasana yang sama. Mereka begitu baik di pertemuan yang singkat ini (mungkin karena masih sebentar ya, masih sayang-sayangnya hehe). Rasanya hanya dalam dua malam waktu bersama keluarga angkat kita itu kita sudah merasa bagian dari keluarga. Pengalaman ini tidak bisa saya lupakan dan sesungguhnya cukup mengherankan juga bagi saya yang biasanya lama waktu pendekatan dengan orang baru.

Ribbon Party, ini merupakan salah satu tradisi di SSEAYP setiap kapal Nippon Maru akan berlabuh meninggalkan PoC. Pita panjang tersebut akan kami lemparkan ke bawah dan sebisa mungkin akan didapatkan oleh keluarga angkat kita. Seiring kapal menjauh pita perlahan diulur hingga akhirnya terputus. Banyak dari kami yang masih menimpan pita yang terputus itu sebagai kenang-kenangan.
©Brian Christian Chandraputra

Jika punya kesempatan, saya ingin dating menjenguk keluarga saya di tiap PoC. Tidak kecuali keluarga angkat saya saat di Jakarta, ya! Kontingen Indonesia juga tinggal bersama keluarga angkat saat CP di Jakarta. Well, kembali di cerita awal saat di Jepang, 11 hari ini terasa amatlah cepat, 2 November kami menuju ke Harumi Port dimana pertama kali kami melihat langsung Motor Ship Nippon Maru, kapal legendaris SSEAYP yang akan menjadi rumah kami, daratan kami selama puluhan hari. Terharu akhirnya bertemu, sebelumnya hanya saya lihat di foto-foto, kali ini melihat langsung, besar dan megah, saya sampai menitihkan air mata (dan segera selfie juga sih sebenarnya).

Cerita apa saja kegiatan di atas kapal, nanti baca lanjutan nya ya di "SSEAYP 2017: Sailing the Blue".


SSEAYP 2015Berlayar, Bertemu, Berpisah

Fika Nurazam Wirastuti
SSEAYP 2015

Di atas adalah rute perjalanan SSEAYP tahun 2015 dengan menggunakan Kapal Nippon Maru. Bersama dengan kurang lebih 300 peserta dari 11 negara, kami melakukan perjalanan. Negara yang terakhir disambangi oleh kami adalah Malaysia, tepatnya di Sabah, Kota Kinabalu.


Official photo of Nippon Maru

Cukup lama perjalanan dari Yangon ke Kota Kinabalu, memakan waktu 5 hari. Dan lagi-lagi, ada pirates watch saat perjalanan ini. Syukur nggak kenapa-kenapa. Waktu itu kami sempat juga lho singgah sebentar di lautannya Singapura untuk refill barang atau bahan makanan. Meski kaki tak bisa menjejakkan langkah di daratan bumi Singapura, tapi bisa melihat Singapura dari posisi ini pun aku sudah sangat senang.


Kapal yang refill bahan makanan. Di depan itu negeri Singapura

Kota Kinabalu adalah Port of Call terakhir. Nggak menyangka perjalanan secepat itu. 4 hari 3 malam di Kota Kinabalu rasanya kayak angin lalu. Cepat sekali. Kami harus menyudahi ini tanggal 8 Desember 2015. Tapi aku selalu berusaha menikmati setiap momen yang terjadi disana. Stay positive made me more grateful and happier.

Seperti biasanya, sebelum meninggalkan pelabuhan suatu Negara, ada yang namanya ribbon throwing. Aku memilih pita warna merah. Suara gong sudah terdengar sebagai tanda diperbolehkannya melempar pitanya. Bersama mermaid sister-ku, seorang peserta dari Laos (homestay-mate), kami bersama-sama melempar pita kertasnya.


Ribbon throwing

Ada Mama, Papa, 3 saudara laki-laki (yang satu masih bayi berusia beberapa bulan), dan satu orang adik perempuanku. Pita kertasku dapat ditangkap dengan baik oleh saudaraku. Dan akhirnya pelan-pelan, kapal pun mulai meninggalkan pelabuhan. Pita yang awalnya kendor, lama-lama menjadi kencang karena saling tarik, antara aku dan sodaraku, dan kapal yang makin menjauh dari pelabuhan. Dan akhirnya, *tss* PUTUS. Ya, pita kertasnya pun putus.


Keluarga angkat di Malaysia saat Open Ship

Sejak kapal mulai menjauh, aku lihat dari dek lantai 4 mama menangis. Aku cuma bisa melambaikan tangan dan tersenyum senang-sedih-terharu-bahagia, tersenyum nano-nano kayak gado-gado. Akhirnya kapal semakin menjauh, dan orang-orang di pelabuhan pun tak lagi nampak. Aku dan sahabat baruku, Rena, akhirnya cuma bisa menatap senja di lautan. Sunset saat itu tak seindah biasanya. Meninggalkan segala kenangan dan keluarga baru di Malaysia.


Aku dan Rena bisa menjadi sahabat karena sempat tinggal bersama saat Homestay Program

Perjalanan pun akan berakhir dalam beberapa hari saja. Hanya laut Cina Selatan yang kami lihat. Sinyal internet sudah tak ada. Kembali berinteraksi dengan manusia di dalam kapal. Sunset indah di laut Cina Selatan aku pandang dengan takjub dan penuh rasa syukur. Kadang aku menikmati sunset itu sendirian sambil merenung, merefleksikan diri. Kadang sambil bikin video, kadang sambil makan dan lihat sunset-nya dari ruang makan. Kalau beruntung, bisa lihat sekumpulan lumba-lumba di lautan lepas.

Suara ombak, angin yang tak kalah kuatnya, kapal yang goyang ke kanan, ke kiri, naik, turun, menjadi keseharian kami di hari-hari terakhir. Seasick Pill makin sering dikonsumsi, bahkan ada juga yang sampai terbaring lemah di kamar. Aku sendiri sempat merasakan mabuk laut, perut yang nggak bersahabat, kepala yang pusing gimana gitu, dan setiap lihat makanan bawaannya ingin muntah saja. Tapi aku tetap berusaha makan meskipun sedikit karena tidak mau menyusahkan orang lain gara-gara sakit di hari-hari terakhir.


Mendung saat Ms. Nippon Maru menepi kembali di Tokyo Harbour

Tanggal 15 Desember 2015. Sehari sebelum kami pulang. Kapal sudah menepi di Pelabuhan Internasional Tokyo. Pelabuhan tempat kami memulai perjalanan pertama kami, dan akhirnya harus berakhir di sini pula. Cerita panjang selama mengarungi lautan sebanyak ini belum dapat menggambarkan SSEAYP seutuhnya. Aku pikir, dan banyak orang lain yang juga berpikir bahwa inilah yang membuat program SSEAYP berbeda dengan program pertukaran lainnya. Kehidupan dan perjalanan di atas kapal sungguh istimewa.


Dari kiri ke kanan: Rena (Japan), Happy (Vietnam), seorang petinggi di kapal, THE CAPTAIN, Aku, Ana (Vietnam)

A Day Before Leaving the Ship, and Japan......