<
Back to pcmijogja.com's homepage

SSEAYP 2015Berlayar, Bertemu, Berpisah

SSEAYP 2015Berlayar, Bertemu, Berpisah

Fika Nurazam Wirastuti
SSEAYP 2015

Di atas adalah rute perjalanan SSEAYP tahun 2015 dengan menggunakan Kapal Nippon Maru. Bersama dengan kurang lebih 300 peserta dari 11 negara, kami melakukan perjalanan. Negara yang terakhir disambangi oleh kami adalah Malaysia, tepatnya di Sabah, Kota Kinabalu.


Official photo of Nippon Maru

Cukup lama perjalanan dari Yangon ke Kota Kinabalu, memakan waktu 5 hari. Dan lagi-lagi, ada pirates watch saat perjalanan ini. Syukur nggak kenapa-kenapa. Waktu itu kami sempat juga lho singgah sebentar di lautannya Singapura untuk refill barang atau bahan makanan. Meski kaki tak bisa menjejakkan langkah di daratan bumi Singapura, tapi bisa melihat Singapura dari posisi ini pun aku sudah sangat senang.


Kapal yang refill bahan makanan. Di depan itu negeri Singapura

Kota Kinabalu adalah Port of Call terakhir. Nggak menyangka perjalanan secepat itu. 4 hari 3 malam di Kota Kinabalu rasanya kayak angin lalu. Cepat sekali. Kami harus menyudahi ini tanggal 8 Desember 2015. Tapi aku selalu berusaha menikmati setiap momen yang terjadi disana. Stay positive made me more grateful and happier.

Seperti biasanya, sebelum meninggalkan pelabuhan suatu Negara, ada yang namanya ribbon throwing. Aku memilih pita warna merah. Suara gong sudah terdengar sebagai tanda diperbolehkannya melempar pitanya. Bersama mermaid sister-ku, seorang peserta dari Laos (homestay-mate), kami bersama-sama melempar pita kertasnya.


Ribbon throwing

Ada Mama, Papa, 3 saudara laki-laki (yang satu masih bayi berusia beberapa bulan), dan satu orang adik perempuanku. Pita kertasku dapat ditangkap dengan baik oleh saudaraku. Dan akhirnya pelan-pelan, kapal pun mulai meninggalkan pelabuhan. Pita yang awalnya kendor, lama-lama menjadi kencang karena saling tarik, antara aku dan sodaraku, dan kapal yang makin menjauh dari pelabuhan. Dan akhirnya, *tss* PUTUS. Ya, pita kertasnya pun putus.


Keluarga angkat di Malaysia saat Open Ship

Sejak kapal mulai menjauh, aku lihat dari dek lantai 4 mama menangis. Aku cuma bisa melambaikan tangan dan tersenyum senang-sedih-terharu-bahagia, tersenyum nano-nano kayak gado-gado. Akhirnya kapal semakin menjauh, dan orang-orang di pelabuhan pun tak lagi nampak. Aku dan sahabat baruku, Rena, akhirnya cuma bisa menatap senja di lautan. Sunset saat itu tak seindah biasanya. Meninggalkan segala kenangan dan keluarga baru di Malaysia.


Aku dan Rena bisa menjadi sahabat karena sempat tinggal bersama saat Homestay Program

Perjalanan pun akan berakhir dalam beberapa hari saja. Hanya laut Cina Selatan yang kami lihat. Sinyal internet sudah tak ada. Kembali berinteraksi dengan manusia di dalam kapal. Sunset indah di laut Cina Selatan aku pandang dengan takjub dan penuh rasa syukur. Kadang aku menikmati sunset itu sendirian sambil merenung, merefleksikan diri. Kadang sambil bikin video, kadang sambil makan dan lihat sunset-nya dari ruang makan. Kalau beruntung, bisa lihat sekumpulan lumba-lumba di lautan lepas.

Suara ombak, angin yang tak kalah kuatnya, kapal yang goyang ke kanan, ke kiri, naik, turun, menjadi keseharian kami di hari-hari terakhir. Seasick Pill makin sering dikonsumsi, bahkan ada juga yang sampai terbaring lemah di kamar. Aku sendiri sempat merasakan mabuk laut, perut yang nggak bersahabat, kepala yang pusing gimana gitu, dan setiap lihat makanan bawaannya ingin muntah saja. Tapi aku tetap berusaha makan meskipun sedikit karena tidak mau menyusahkan orang lain gara-gara sakit di hari-hari terakhir.


Mendung saat Ms. Nippon Maru menepi kembali di Tokyo Harbour

Tanggal 15 Desember 2015. Sehari sebelum kami pulang. Kapal sudah menepi di Pelabuhan Internasional Tokyo. Pelabuhan tempat kami memulai perjalanan pertama kami, dan akhirnya harus berakhir di sini pula. Cerita panjang selama mengarungi lautan sebanyak ini belum dapat menggambarkan SSEAYP seutuhnya. Aku pikir, dan banyak orang lain yang juga berpikir bahwa inilah yang membuat program SSEAYP berbeda dengan program pertukaran lainnya. Kehidupan dan perjalanan di atas kapal sungguh istimewa.


Dari kiri ke kanan: Rena (Japan), Happy (Vietnam), seorang petinggi di kapal, THE CAPTAIN, Aku, Ana (Vietnam)

A Day Before Leaving the Ship, and Japan......