<
Back to pcmijogja.com's homepage

IMYEP 2016Gali Potensi Diri di Negeri Tetangga, Malaysia

IMYEP 2016Gali Potensi Diri di Negeri Tetangga, Malaysia

Vinia Rizqi Prima
IMYEP 2013

Savytri Ika DP (Photos)
IMYEP 2016

Tidak terasa sudah tiga tahun berselang setelah aku terpilih dalam program PPAN di tahun 2013 lalu. Well, terpilih dan mendaftar program IMYEP bukan tidak sengaja. Aku memang sengaja mendaftar....Malaysia. Kenapa? Bukankah itu dekat? Iya memang. Justru kita harus mengenali negara satu rumpun. Jangan pernah memberi judgement apa negara yang akan menjadi tujuan, karena di setiap tempat kita bisa belajar. Apalagi kala itu, program yang ditawarkan adalah enterpreneurship, yang (tentu saja) akan berkaitan erat dengan my life goal (or sooner). Sepertinya asyik juga bila aku tahu ilmu-ilmu wirausaha dari negara dengan background dan nuansa budaya yang relatif sama. Dan benar saja, aku mendapatkan beberapa masukan yang cukup berharga untuk masa depan.

Program IMYEP berjalan sekitar 3 minggu dan dibagi dalam dua fase, Indonesia (Surabaya dan Malang) dan Malaysia (Johor Baru dan Kuala Lumpur). Lalu apa saja yang aku dapat? Belajar budaya? Tentu saja. Belajar birokrasi dan juga multicultural understanding? Jelas... Lebih daripada itu, aku dan teman-teman dari provinsi lainnya belajar bagaimana beradaptasi dengan watak dan juga kultur yang dibawa oleh masing-masing individu. Plus belajar bagaimana mengelola dan memanajemen waktu agar semua agenda bisa on schedule. Bagaimana bisa tepat dan tetap tampak anggun saat mengikuti upacara kenegaraan 17 Agustus di Istana Negara Jakarta. Bagaimana cara kita berdiplomasi menampilkan fakta yang ada, namun tetap menjaga nama baik negara yang kita wakili.


Kalau berbicara soal budaya, tentu saja ada terlalu banyak budaya yang bisa dieksplor. Malaysia yang aku lihat waktu itu, bukan seperti yang biasanya aku baca di surat kabar. Aku bertemu dengan banyak pemuda Malaysia yang sangat antusias untuk mengetahui lebih lanjut tentang Indonesia. Aku bertemu banyak orang Malaysia, yang menghormati dan sangat hangat menyambut kami.

Suatu ketika orang tua angkatku –karena saat itu ada program homestay— bahkan berkata secara langsung kepadaku, “Aku kagum dengan Indonesia,”. Aku ingin suatu saat nanti bisa keliling Indonesia. Atau roommateku yang kagum dengan banyaknya motif batik saat koperku terbuka. Dia pun berkata spontan, “Batik yang kamu bawa banyak sekali yang bagus, kami tentunya harus banyak belajar banyak dari kamu,” ujarnya kala itu. Dan aku juga belajar serta menjadi saksi, bagaimana rakyat Malaysia begitu menghormati rajanya. Bagaimana semangat kemerdekaan dirayakan secara meriah dan gempita di Dataran Merdeka, semua elemen masyarakat dilibatkan untuk turut serta merayakan.


Di satu sisi, aku dan teman-teman, juga diberikan kesempatan untuk menggelar dialog persahabatan kala itu. Kami difasilitasi oleh Kementrian Belia dan Sukan serta Kementrian Luar Negeri Indonesia di Malaysia. Bertukar pikiran dan sembari sesekali menyelipkan candaan yang sarat dengan nilai budaya masing-masing.

Program memang hanya berlangsung selama beberapa minggu saja. Tapi, ternyata, setelah 3 tahun berselang, aku baru merasa, bahwa program hanyalah sebagai awal, atau sebut saja sebagai pemantik. Pemantik untuk memulai sebuah perjalanan baru lagi yang tentunya lebih seru, lebih colourful daripada biasanya, dan mungkin lebih liar dan tak terduga. Setelah berangkat program, aku jadi semakin yakin bahwa tidak pernah ada yang namanya kebetulan di dunia ini. Something nowadays, are impossible things in the past.


Program akan banyak memberikan pelajaran untuk membuka diri kita perlahan-lahan. Menggali potensi apa yang masih ada dalam diri, namun tak kita sadari.