Back to pcmijogja.com's homepage

AIYEP 2016dari Negeri Kangguru hingga Tanah Beru

AIYEP 2016dari Negeri Kangguru hingga Tanah Beru

Gratsia Kancanamaya
AIYEP 2016

Formasi komplit peserta AIYEP 2016/2017 setelah beberapa hari mengenal dan dua ronde bermain bowling.

Kontingen Indonesia: Kami berangkat tidak sendiri-sendiri melainkan menjadi satu kontingen yang terdiri dari 18 pemuda/i dari provinsi yang beragam.

Mengikuti Australia-Indonesia Youth Exchange Program (AIYEP) adalah sebuah langkah besar dalam hidup saya. Durasi program yang cukup lama, yakni empat bulan, membuat saya harus menunda rencana jangka panjang setelah menyelesaikan studi S1. Namun keputusan tersebut merupakan keputusan yang tepat dan tidak saya sesali, mengapa karena AIYEP memberikan saya pengalaman dan pelajaran berharga yang tidak mungkin saya peroleh dari tempat lain.

AIYEP ini sendiri merupakan hasil kesepakatan pemerintah Indonesia dengan Australia. Program ini didesain untuk memperkenalkan profesionalisme kerja pada pemuda dari dua negara. Tidak berhenti di ragam kegiatan, AIYEP dibagi ke dalam dua fase, fase Australia dan fase Indonesia. Kedua fase tersebut juga terbagi menjadi fase kota dan fase desa yang masing-masing berdurasi kurang lebih satu bulan. Dalam setiap fasenya, banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan, baik itu dari pengalaman bersama host family, penempatan kerja atau magang, maupun cultural performance


Saat di DPTI Adelaide, tidak jarang kami harus ikut turun ke lapangan.
Bersama rekan dan supervisor

Penempatan kerja pertama saya pada fase Adelaide adalah di Department of Planning, Transport & Infrastructure (DPTI) Pemerintah Australia Selatan, tepatnya di tim Communication, Community Engagement and Media. Posisi tersebut sesuai dengan latar belakang studi saya di bidang Ilmu Komunikasi, sehingga saya dapat belajar banyak hal dari pengalaman tersebut. Terlebih, saya juga dilibatkan dalam berbagai proyek yang sedang dikerjakan oleh DPTI. Lain halnya dengan penempatan kerja saya di fase Fleurieu Peninsula, di mana saya ditempatkan di Perpustakaan Goolwa di bawah naungan Alexandrina Council. Pengalaman tersebut adalah pertama kalinya saya menjadi pustakawan, namun saya sangat menikmati aktivitas selama di sana.


Saya dapat kesempatan untuk belajar dan menampilkan tari Saman.

Selain magang, di hari Senin kami melakukan penampilan budaya di berbagai sekolah. Kegiatan ini Tak hanya menampilkan kesenian daerah seperti tarian dan lagu daerah, kami juga berinteraksi langsung dengan siswa-siswi di sekolah tersebut melalui kuis serta menari dan bernyanyi bersama. Penampilan yang kami bawakan merepresentasikan daerah asal masing-masing.


Keluarga angkat di Adelide, Alex, Jenna, Imogen, dan Abigail Wilkinson.

Setiap akhir pekan kami banyak menghabiskan waktu dengan orang tua angkat. Berbagai tempat, mulai dari area wisata ataupun rekreasi kami kunjungi untuk menghabiskan waktu. Namun kegiatan bersama di rumah juga tetap dilakukan seperti berbincang-bincang, makan bersama, ataupun sekadar bermain.


Kami tinggal bersama di fase Indonesia.
Saatnya memulai fase Indonesia di Sulawesi Selatan.

Pada akhir fase Australia, kami 18 delegasi Indonesia bertemu dengan 18 delegasi Australia dalam joint-orientation. Masing-masing dari kami pun dipasangkan sebagai counterpart yang akan tinggal dengan host family bersama-sama di fase Indonesia. Counterpart saya bernama Abbie Boyd yang berasal dari Sydney.

Satu hal yang membedakan antara fase Australia dengan fase Indonesia adalah adanya community development. Kami melaksanakan fase Indonesia di Sulawesi Selatan.Pada fase desa di Indonesia kami melaksanakan community development/ di Kelurahan Tanah Beru, Kabupaten Bulukumba. Saya sendiri tergabung di dalam tim Pendidikan, tepatnya tim Perpustakaan. Kami melakukan pembaharuan terhadap sarana prasarana perpustakaan setempat yang telah ada, serta membuka donasi online baik dalam bentuk buku maupun dana untuk memperbaharui koleksi buku perpustakaan.


Fase Indonesia kami lebih banyak melakukan kegiatan community development.

Sementara pada fase kota yang berlangsung di Makassar, saya kembali melakukan penempatan kerja. Kali ini, saya berkesempatan untuk magang di sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat bernama Yayasan Peduli Kelompok Dukungan Sebaya (YPKDS) Makassar. Yayasan tersebut bergerak dalam memberikan pendampingan dan dukungan bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA).


Tanpa terasa, empat bulan program pun berlalu begitu saja. Berbagai pengalaman yang saya alami di AIYEP tidak akan lengkap tanpa ikatan persahabatan yang saya jalin bersama 17 delegasi Indonesia lainnya dan 18 delegasi Australia. Kebersamaan selama program mungkin hanya berlangsung sekian bulan. Namun semua itu hanyalah awal. Di kehidupan seusai program, kami tetap menjalin komunikasi dan bahkan kerap bertemu kembali.