<
Back to pcmijogja.com's homepage

Join PPANMengapa lewat PPAN kalau ada jalur lain?

Join PPANMengapa lewat PPAN kalau ada jalur lain?

Memasuki era milenial, ada banyak sekali jalur untuk pergi keluar negeri. Bagi yang menggilai travelling, keberadaan low-cost air fare dan online travel menjadi solusi. Bagi yang ingin menunjang resume, konferensi internasional atau program pertukaran mahasiswa antar universitas adalah opsi yang menjanjikan. Lantas, bagaimana dengan PPAN?

Sekilas, PPAN merupakan jalur bagi mereka yang ingin merasakan eksposure atas Government to Government (G2G) program. Jalur yang menyatukan delegasi terpilih dari beberapa provinsi untuk berangkat bersama sebagai Duta Muda Indonesia. Mengenakan seragam “A1” yang tidak kalah keren dengan pasukan Paskibraka, berdialog tentang issue politik, budaya dan ekonomi saat bertemu pemimpin dari negara lain merupakan secuil dari G2G. Untuk itu, diperlukan seleksi yang komprehensif dalam pemilihan delegasi yang akan mewakili Indonesia.

Seleksi yang komprehensif bertujuan untuk menemukan seorang Duta Muda yang orisinil. Pemuda yang mengenali potensi diri sendiri, yang bersedia agar potensi dirinya bisa dikembangkan selama dan sesudah program. Walaupun seleksinya komprehensif, jangan mudah termakan desas-desus bahwa seleksinya rumit dan sulit. Cek pembahasan singkat terkait dengan mitos utama seleksi komprehensif PPAN berikut ini:

1. Bahasa Inggris harus di level expert

Tujuan utama dari Bahasa inggris adalah untuk memudahkan komunikasi ketika kita berada di luar negeri selama G2G program, bukan untuk show-off sama sekali. Bagi yang merasa kemampuan berbahasa inggris nya masih pemula, jangan khawatir. Selama ada usaha dan kepercayaan diri untuk mencoba berbicara dalam bahasa inggris, maka kalian memliki bargaining position yang sama. Ohya, jangan lupa penuhi persayaratan administrative seperti TOEFL. Walaupun fasih, tanpa sertifikat TOEFL persyaratan administratif tidak bisa terpenuhi begitu saja.

2. Harus paham seluk-beluk kebudayaan Provinsi

Sebagai delegasi provinsi, idealnya memang peserta mengetahui pengetahuan dasar tentang provinsinya, tapi bukan berarti harus hafal dan khatam. Level mengenali provinsinya juga bukan seperti pemahaman konsultan seperti “berapa jumlah konsumsi nangka di provinsi DIY sebagai konsultan seperti “berapa jumlah destinasi wisata yang dimiliki provinsi DIY dan berapa yang masih berada di atas tanah Sultan atau Pakualaman”. Pemahaman tentang provinsi bisa dianalogikan seperti pemahaman terhadap rumah seperti: apa saja yang terjadi di rumah, siapa saja penghuninya, apa yang membuat seseorang betah di rumah, apa saja kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan di dalam rumah. Pahami konteks dan konten lebih mendalam, sekadar hanya mengenali teks dan menghafalkan.

3. Harus punya skill khusus sebagai individual

Selain dua mitos di atas, peserta juga diharapkan (bukan diharuskan ya) memiliki kemampuan non-akademis. Apa saja selain bukan belajar bisa kehitung kok, mulai dari menari, menyanyi, memasak, bela diri, membuat anyaman, marketing, membuat itinerary, MC, moderator melukis, design, programming, baca puisi, acting, olah raga atau keahlian apa pun, you name it. Kemampuan individu juga bukan yang harus professional level, yang dinilai keinginan untuk mau tampil di depan umum dan kepercayaan diri.

Nah, ketiga “harus” mitos di atas sudah sedikit banyak terkonfirmasi ya? Untuk detail sekomprehensif apa seleksinya, silakan buktikan sendiri. Just like once Coldpay said, if you never try you’ll never know just what you’re worth. Daftar dulu aja, nikmati keseluruhan fase seleksinya dan jika G2G termasuk salah satu wish-list, then you have to believe in Coldplay: everything you want’s a dream away :)

Persiapkan persyaratannya and feel free to show your True Colors in this fruitful 2017!